Minggu 23 Agustus 2026 - 13:13
Apa Pesan dari Tanggal 9 Rabiul Awal bagi Mereka yang Menantikan Kemunculan Al-Mahdi?

Hawzah / Tibanya tanggal 9 Rabiul Awal adalah kesempatan terbaik untuk memperbarui janji dan ikrar dengan Imam Zaman as.

Berita Hawzah – Janji dan ikrar dengan Imam Mahdi (semoga Allah menyegerakan kemunculannya) dalam ranah pemikiran dan tindakan, jauh melampaui sekadar slogan emosional. Ini merupakan suatu hal yang dalam ajaran-ajaran Mahdawiyah dapat didefinisikan di bawah istilah 'baiat' dan 'penantian aktif'. Sebagaimana halnya dalam sistem pemikiran Imam dan Pemimpin Syahid (Imam Khomeini dan Sayyid Ali Khamenei), ikatan ini tidak dimaknai dalam keterasingan individual, melainkan menemukan makna dan arti dalam konteks pembangunan masyarakat dan peradaban.

Langkah pertama adalah pengenalan

Hujjatul Islam Habib Babaei, seorang peneliti dan akademisi hawzah serta aktivis budaya, berpendapat: Langkah pertama untuk mengikat janji sejati dengan Hujjah bin Al-Hasan (Imam Mahdi as) dan bertahan di atasnya, adalah upaya dalam ranah epistemologi, karena pengenalan terhadap imamah dan wilayah pada langkah awal akan membuat kita memperoleh taufik (kemampuan) untuk bergerak di jalan yang bercahaya ini. Menurut ungkapan salah satu guru kami, janji yang sejati dan nyata dimulai dengan pengenalan terhadap Imam, dan selama gambaran kita tentang Imam masih bersifat abstrak dan jauh dari kenyataan, komitmen kita pun akan bersifat dangkal.

Ia menambahkan: Dari perspektif ini, saya berkeyakinan bahwa tanggal 9 Rabiul Awal adalah kesempatan berharga untuk berikrar dengan Wali Allah, namun sebelumnya kita harus mencapai pengenalan dan pemahaman yang mendalam bahwa Imam yang maksum adalah kompas penunjuk arah gerakan masyarakat. Oleh karena itu, sebelum segalanya, kita harus memahami kedudukan agung Imam dalam mewujudkan keadilan dan penghambaan kepada Allah, dan dalam hal ini, membiasakan diri dengan ziarah-ziarah seperti "Ziarah Ali Yasin" dan "Doa Ahd" serta mempelajari secara mendalam dan teliti kitab-kitab yang berkaitan dengan pembahasan Mahdawiyah sangatlah membuka jalan dan efektif.

Pentingnya memperkuat dimensi spiritual dan penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs)

Ia juga, dengan merujuk pada fakta bahwa kesetiaan kepada Imam Hujjah (semoga Allah menyegerakan kemunculannya) pada langkah pertama adalah kesetiaan kepada agama Allah yang ada dalam diri manusia itu sendiri, mengatakan: Sudah tentu seseorang yang ingin menjadi prajurit Sang Penyelamat yang Dijanjikan, tidak mungkin tenggelam dalam keburukan-keburukan akhlak. Oleh karena itu, ikrar ini berarti kita dalam segala dimensi kehidupan, memandang diri kita berada di hadapan Imam (as), dan dengan cara ini, melalui penguatan dimensi spiritual dan penyucian jiwa, kita berupaya untuk mewujudkan tujuan-tujuan suci era kemunculan di masa ghaibah.

Penantian Aktif; Prasyarat Pembangunan Peradaban

Aktivis budaya ini selanjutnya, dengan menekankan bahwa tanpa ragu manifestasi terpenting dari ikrar di zaman sekarang adalah "penantian aktif", menyatakan: Penantian ini tentu bukan berarti pasif dan berpangku tangan, melainkan berarti mempersiapkan infrastruktur masyarakat untuk kemunculan (Al-Mahdi as), dan bahwa kita di barisan kebenaran dan di jalan yang bercahaya ini, adalah orang-orang yang bersabar dan teguh, namun di saat yang sama aktif berupaya untuk menyiapkan segala pendahuluan bagi perkara kemunculan tersebut.

Ia juga mengingatkan: Ikrar yang tulus dengan Imam Zaman (semoga Allah menyegerakan kemunculannya), dalam praktiknya berarti bertahan di atas nilai-nilai dan prinsip-prinsip Revolusi Islam, memerangi kezaliman dan arogansi global, serta mendukung barisan kebenaran dan keadilan di seluruh penjuru bumi. Pemimpin Syahid kami (Imam Khamenei ra) berulang kali menekankan bahwa penyiapan kemunculan (Al-Mahdi as) dimungkinkan dengan memperkuat kemampuan negara dan sistem Islam, dan arahan berharga beliau ini selalu terhampar di hadapan kami sebagai wasiat emas.

Tanggung Jawab Sosial; Suatu Keharusan dalam Jalur Pengikut Imam Mahdi

Ia, dengan menekankan pentingnya dan urgensi tanggung jawab sosial, mengatakan: Setiap tindakan yang membantu keadilan, rasionalitas, dan spiritualitas dalam masyarakat merupakan perwujudan kesetiaan kepada ikrar suci tersebut, karena ikrar dengan Imam Zaman (semoga Allah menyegerakan kemunculannya) memiliki ikatan yang tak terpisahkan dengan pelayanan yang jujur dan ikhlas kepada masyarakat serta perjuangan melawan kerusakan dan penyimpangan.

Kita Membutuhkan Aspek "Penantian" yang Mana?

Narjis Syukrizadeh, pengajar di hawzah ilmuiah putri, juga dengan menyatakan bahwa dalam wacana yang berkaitan dengan peradaban Islam modern, penantian berarti membangun masa kini demi mewujudkan masa depan yang ideal, menyampaikan: Peradaban Islam modern berarti menciptakan infrastruktur di berbagai bidang ilmiah, ekonomi, politik, dan budaya yang memiliki kelayakan untuk menerima pemerintahan adil Mahdawi.

Ia menambahkan: Dalam hal ini, kita harus mengetahui dan menyadari bahwa setiap langkah di jalur kemajuan ilmiah dan teknologi dalam sistem dan masyarakat Islam, pada hakikatnya berarti menyediakan alat-alat manajemen peradaban Mahdawi, dan penantian seperti inilah yang kami sebut sebagai penantian konstruktif, yang akan menyiapkan landasan bagi keridhaan hati Baqiyatullah (Imam Mahdi as).

Perjuangan Tanpa Lelah untuk Mewujudkan Keadaan yang Ideal

Pengajar di hawzah ilmiah putri ini juga mengatakan: Dari sudut pandang ini, yang kami maksud dengan penantian sejati adalah seseorang yang sama sekali tidak puas dengan keadaan yang ada, melainkan berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mencapai keadaan yang ideal, dan tidak takut terhadap kesulitan, masalah, cemoohan, dan fitnah. Dalam hal ini, lebih dari segalanya kita membutuhkan pandangan dan pendekatan peradaban, dan indikator penting dalam masalah ini adalah pembinaan Mahdawi untuk mencapai tujuan suci dan luhur tersebut.

Syukrizadeh menyampaikan: Kita juga tidak boleh melupakan fakta bahwa musuh di masa ghaibah, lebih dari segalanya berupaya untuk menimbulkan keputusasaan dan merusak keyakinan orang-orang terhadap masa depan yang telah dijanjikan. Oleh karena itu, untuk menetralisir masalah ini, lebih dari segalanya kita perlu dipersenjatai dengan senjata jihad tabyin (jihad penjelasan), karena dalam perang narasi, dengan senjata inilah kita dapat, dengan pertolongan dan kekuatan Ilahi serta bantuan dari Imam Zaman sendiri (semoga Allah menyegerakan kemunculannya), mengalahkan dan mengungguli musuh-musuh Ahlulbait (as).

Pentingnya Jihad Tabyin di Zaman Sekarang

Di akhir, ia menambahkan: Jihad tabyin berarti kita tunjukkan kepada masyarakat bahwa meskipun ada segala macam masalah, kesulitan, dan fitnah, jalan kemajuan Revolusi Islam sebagai landasan bagi kemunculan Imam Hujjah (as) adalah jalan yang menanjak (meningkat). Di samping itu, kami meyakini bahwa Mahdawiyah adalah budaya harapan serta kerja dan usaha, bukan kepasifan dan mengasingkan diri. Oleh karena itu, tanpa jihad tabyin kita tidak akan mampu menjelaskan komponen-komponen masyarakat Mahdawi, dan di sisi lain, kita tidak akan dapat menetralisir konspirasi dan fitnah musuh di era akhir zaman.

Penutup:

Intinya, bertahan pada ikrar dan janji dengan Imam Zaman (as) berarti menjadi seorang prajurit di barisan kebenaran; seseorang yang baik mementingkan perbaikan diri maupun berupaya untuk memperbaiki masyarakat, guna mempersiapkan landasan bagi keadilan mutlak global sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya masing-masing.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha